Jakarta - Mafia peradilan di Indonesia sangat parah. KPK sudah menyeret jaksa nakal, namun belum menyentuh hakim korup.
( zal / nwk )
Komentar terkini (7 Komentar)
petugas,
SIAP...!!! Menurut gw, penuntasan masalah yang terdiri 2 pihak, sebab - akibat, bisa 2 pendekatan, yaitu dimulai dari pihak pertama, yaitu user/pengusaha/penyuap/pelaku, atau dimulai dari pihak kedua, yaitu penjual/pejabat/petugas/penyed ia.
Saat ini, dengan kewenangan dan kebutuhan penghimpunan kekuatan, maka lebih optimal dan efisien serta tepat guna bila dimulai dari pihak pertama, baru kemudian pada nantinya secara konsisten fokus ke pihak kedua.
Namun secara paralel, perlu segera membuat penguatan dan penyempurnaan di sektor hukum dan sangsi, sehingga memberi efek jera dan takut, berdaya guna tindakan preventif/ pencegahan korupsi.
Diharapkan dengan paralelnya perbaikan hukum dan sangsi, maka tindakan korupsi oleh pihak pertama dan kedua bisa dihindari, dan secara konsisten serta berkesinambungan memproses para pelaku korupsi masa lalu dan yang sedang terjadi....dengan mengedepankan semangat perbaikan, tingginya rasa malu, tingginya keimanan ( sesuai agama masin2x ) sehingga takut dosa, dan rasa tanggungjawab....MAJU INDONESIA...!!!
Joko Pitrang,
Peradilan kita merupakan sarang salah satu sindikat Mafia, mulai dr Jaksa, Hakim, Pengacara dan calo Perkara ini sangat sulit diberantas , karena Hukuman bagi mereka yang berbuat tidak membuat jera sampai saat ini. Bagaimana mau memberantas sedangkan Pemberantas sendiri pernah ikut menikmati uang panas juga. Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung adalah gudang jual beli perkara sampai sekarang.Jaksa, Hakim dan Pengacara membuat deal untuk memutuskan Perkara.
Judge Bao,
Hmm.. sebenarnya sih gue mau dukung KPK cuma oknum Antasari ini apa berani menyikat MA dan pengadilan wong dia sendiri dulunya jaksa Agung dan ga berani nangkap Tomy. Yah mudah2an udah tobat deh... Kita perlu orang2 seperti mendiang Baharuddin Lopa dan Agus Wirahadi kusuma, Sayang mereka keburu di habisin oleh para Durjana.
genjotrus,
premisi mo usul sadis nih. Bagi aparat penegak hukum nyang kebukti nyolong, suruh pilih diukum mati atawa dipermaluin. Mingsalnye dipajang tiap hari di satu mal ke mal lain diseantero NKRI dgn digantungi tulisan : nama, jabatan dan kejahatannye! Wuah, pasti mal2 dipenuhin orang, bisa bikin laris food court, jadi bise nambah lapangan kerje! Nah nyang gak kelewat berat, tiap hari musti kerja bakti bebersih selokan ataw wc umum selama, ye, sesuai dgn putusan hakim. h4nie pasti se-7.
oche,
KPK itu bukan superman yang bisa nyadap gak lewat provider hehehhe....tapi saya yakin bila KPK kinerjanya makin bertambah akan dapat menghancurkan praktek korupsi di indonesia ini, saya dukung hukuman mati buat seorang koruptor, karena mereka lebih dari pembunuh yang sangat direncanakan.
Djoni,
Sabar dong om denny, KPK sekarang lebih baik daripada yang lalu. Jangankan hakim, sebentar lagi juga ketua mahkamah agung pindah tidur ke hotel prodeo. Makanya buruan dong om antasari bongkar pertanggung jawaban mahkamah agung mengenai penggunaan biaya perkara di mahkamah agung. Kok gak kedengeran lagi kemajuannya. Apa ada rapat tertutup lagi seperti dengan anggota DPR tempo hari?