Jakarta - Sebagian kalangan barangkali sepakat bila para koruptor yang sulit diberantas, diganjar dengan hukuman mati agar memberi efek jera. Atau cukupkah dengan mengikis budaya korupsi?
( zal / nwk )
Komentar terkini (37 Komentar)
miyat 354,
setuju hukuman MATI adalah harga MATI mengingat akibat koruptor ini bangsa kitta yang belum lahir aja udah ada beban penderitaan, SETUJU HUKUMAN MATI....HUKUM MATI PARA KORUPTOR UNTUK KEMAKMURAN BANGSA YANG BESAR INI...
Budaya bangsa kita kalo dah dikasih ati ngrogoh rempelo...Udah ada sangsi yg ringan tidak membuat jera...
ijoy,
yg bener tuh kikis budaya korup dg hukuman mati... dijamin pasti ada dampaknya.
lebih adil,
sepertinya masih banyak yang belum faham tentang hukum potong tangan (ini makanya masih banyak yang takut kalau syariat ditegakkan),
potong tangan itu, hanya sebatas 1 buku jari, bukan sampai 1 lengan... porses hukumnya juga harus melalui pengadilan yang benar2 adil, bukan serta merta mencuri lalu potong tangan...
mengenai hukuman mati, itupun harus proporsional, kiranya korupsi mengakibatkan kerugian yang begitu besar, barulah hukuman mati diterapkan...
Kipas,
Stuju dilaksanakan dua2nya. tapi...Koruptor di hukum mati itu urusan undang2, klo plaksana hukum masih juga bisa di sogok, apa masih bisa di hukum mati tuh koruptor? trus ngilangin budaya korupsi mah bukan urusan gampang, butuh waktu lama. Hebatnya, Indonesia adalah negara beragama, kenapa ya koprupsi jadi budaya?? Tanya kenapa...???
beruk,
smua juga tau budaya korupsi itu harus dihilangkan.. klo mau dikikis gimana caranya.. hukum mati aja kenapa? klo nanti hukuman mati aja gak efektif juga.. bgmna dg hukuman yg lain yg lebih ringan..
Adil,
rekan, koruptor = pencuri. Hukumannya tidak pas kalau di hukum mati, walaupun dampaknya pada banyak orang. Saran saya, hukumannya cukup potong tangan. Satu kali mencuri, potong tangan kanan. Mencuri lagi, potong tangan kiri. Mencuri lagi, potong kaki kanan, dst. Saya yakin, karena bukti hukumannya kasat mata, akan berdampak jera bagi diri sendiri dan orang lain.
jojon,
sebenarnya yang mesti dikikis itu budaya korup yang sudah mengakar dalam praktek budaya tradisional..BUDAYA UPETI dari rakyat untuk raja..BUDAYA SESAJEN untuk alam,bayangkan , alam saja mau di sogok..ngga usah dilestarikan lah budaya2 seperti itu dengan alasan adat istiadat..cenderung mendidik masyarakat tergantung pada pemegang kekuasaan dan kondisi alam..padahal semestinya masyarakat diajarkan untuk survive dengan kemampuan yang ada pada dirinya,bukan dengan memberi upeti..sesajen sana sini yang jelas2 perbuatan syirik
bangsa koruptor,
sebelum kita men-judge para pejabat yang kedapatan korupsi ada baiknya masyarakat juga mengikis habis perilaku korupsi dari pikiran dan kebiasaannya.. lihat saja dijalanan banyak saling serobot melanggar aturan rambu lalulintas dan tidak perduli dengan orang lain.. jadi sebenarnya budaya korupsi itu sudah ada dan laten dalam masyarakat indonesia.. tinggal tunggu kesempatan saja berkuasa dan langsung korupsi..
dodok,
tidak perlu bahas lagi......hukuman mati bagi koruptor hukumnya mutlak dilaksanakan.tak ada hukuman yan lebih baik dari hukuman mati bagi koruptor....
Dulrahman,
Pembuktian terbalik untuk pejabat, aparat hukum dan legislatif, bila tidak dapat membuktikan asal kekayaannya, langsung dianggap korupsi.
Gaji pegawai negeri, tetapi bisa beli mobil, rumah mewah, dsb, tidak tersentuh hukum, karena lihai dalam manipulasi jabatannya.